8 Langkah Alkitabiah Menyelesaikan Konflik Pernikahan
Konflik pada dasarnya adalah bagian dari kodrat manusia. Setelah Adam jatuh dalam dosa, konflik pun terjadi. Ketika Tuhan bertanya kepadanya, apakah dia telah memakan buah dari pohon terlarang itu, dia tidak menjawab "iya". Adam menjawab, "Wanita yang Engkau berikan kepada saya, dialah yang memberi saya buah sehingga saya makan."
Dia secara tidak langsung menyalahkan Tuhan dan secara langsung menyalahkan Hawa. Hawa kemudian menyalahkan si ular, saat dosa memasuki dunia, begitu pula konflik.
Buah dosa yang ditampilkan dalam konflik dapat dibaca dalam Kitab Kejadian 4, Kain membunuh Habel. Dalam Kitab Kejadian 6, dunia penuh dengan kekerasan dan Tuhan memutuskan melenyapkan penduduknya dengan banjir.
Namun banjir tidak mengubah sifat manusia, dan oleh karena itu, konflik berlanjut sepanjang sejarah. Dunia tidak mengenal waktu tanpa perang atau konflik, dan sayangnya dalam pernikahan tidak terkecuali.
Galatia 5:20
"Penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah."
Kita cenderung menyakiti perasaan orang lain, merasa tersinggung, membenci, menahan pengampunan, dan berseteru. Sayangnya, semua buah ini cenderung ada di dalam pernikahan. Pasangan harus menyadari hal ini, dan karena itu, bersiaplah untuk menyelesaikan konflik dalam pernikahan.
Bagaimana seharusnya pasangan menyelesaikan konflik dalam pernikahan?
1. Sikap yang Tepat Dalam Konflik
Prinsip pertama yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik adalah memiliki sikap yang benar. Salah satunya menyenangkan hati Tuhan. Konflik tidak harus merugikan hubungan pernikahan. Konflik, seperti semua cobaan, dimaksudkan untuk menguji iman kita, mengungkapkan dosa di dalam hati kita, mengembangkan karakter dan menarik kita lebih dekat kepada Tuhan.
Roma 8:28
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
Seringkali Tuhan menggunakan pasangan kita untuk mengubah sikap kita yang tidak merefleksikan Yesus. Pernikahan membawa kita memasuki hubungan yang penuh tanggung jawab tinggi. Yang dimaksudkan untuk membantu kita tumbuh sebagai anak-anak Allah.
Hadapi semua konflik pernikahan (dan semua cobaan) dengan harapan yang penuh sukacita, bukan karena kita menikmati penderitaan, tetapi karena kita mengetahui tujuan Allah di dalamnya.
Pasangan yang telah melewati konflik yang sulit dapat membuat pernikahan menjadi kuat dan dapat menjadi penasehat bagi pasangan lain.
Pasangan yang telah melewati konflik yang sulit dapat membuat pernikahan menjadi kuat dan dapat menjadi penasehat bagi pasangan lain.
2. Mengembangkan Ketekunan
Paulus mengatakan: "Ketekunan menghasilkan karakter dan harapan" (Roma 5:3-4). Dalam konflik pernikahan, kita harus mengembangkan ketekunan supaya bisa menghasilkan buah yang Tuhan kehendaki. Ini sulit karena respon alami terhadap konflik adalah untuk menyelamatkan diri atau menghentikannya. Banyak pasangan yang memutuskan untuk menghentikan konflik dengan jalan cerai. Yang lain dengan cara menjauhkan diri secara emosional dan fisik, karena mereka berhenti berusaha untuk memperbaiki pernikahan.Namun, Alkitab mengajarkan kita untuk bertekun dalam pencobaan, termasuk konflik. Itu sama seperti menanggung beban berat. Tuhan mendewasakan manusia dengan memberikan beban yang harus ditanggung, mengajarkan kita untuk percaya pada-Nya. Tuhan menolong kita mengembangkan kedamaian, kesabaran, dan sukacita, terlepas dari keadaan kita. Tuhan membantu kita bertumbuh dalam karakter saat kita "biarkan ketekunan menyelesaikan pekerjaannya."
Komitmen untuk mencintai pasangan kita dalam keadaan sakit dan sehat, saat lebih baik atau lebih buruk. Kita harus bersyukur saat "lebih baik" dan bertekun saat "lebih buruk".
Galatia 6:9
"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."
3. Menabur Benih yang Baik
Sayangnya, meski kita semua menginginkan panen positif dalam pernikahan kita, kita biasanya merespon konflik dengan cara yang bertentangan dengan itu. Seorang istri menginginkan suaminya menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, tapi untuk mendapatkan itu, dia mengkritiknya. Buah yang dia inginkan berlawanan dengan benih yang dia tanam. Benih kritik hanya akan menghasilkan buah negatif pada suaminya. Begitu pula suami, yang menginginkan keintiman dengan istrinya, dengan cara menarik diri darinya. Dia menarik diri dengan harapan bahwa ini akan menarik istrinya lebih dekat, tapi justru sebaliknya. Benih penarikan negatif tidak bisa menghasilkan buah positif dari keintiman.
Kita harus melakukan kebalikan dari keinginan alam kita. Kita mungkin memiliki keinginan untuk meninggikan suara kita, dan/atau menyakiti orang lain, tapi benih ini hanya akan menghasilkan buah negatif dan berpotensi merusak pernikahan. Untuk mengatasi konflik, kita harus selalu menabur benih yang tepat.
Benih apa yang bisa kita tabur saat kita dalam konflik? Mungkin, itu bisa menjadi benih pendengar yang baik. Bisa jadi bibit penegasan. Bisa jadi bibit pelayanan. Tentu, itu pasti benih cinta tanpa pamrih. Dalam konflik, kita harus menabur benih yang baik untuk menuai hasil panen yang baik.
Terkadang, dibutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk mendapatkan panen yang kita inginkan. Banyak yang merasa putus asa saat menunggu pasangan mereka berubah atau agar konflik bisa diselesaikan.With Galatia 6:9 "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."
4. Bicarakan Konflik dengan Pasangan Sebelum dengan Orang Lain
Prinsip lain yang penting untuk diterapkan dalam konflik adalah berbicara dengan pasangan kita terlebih dahulu sebelum berbicara dengan orang lain. Ini adalah asas yang diajarkan Kristus tentang berurusan dengan dosa secara umum. Dalam Matius 18:15 dia berkata, "Jika saudaramu berbuat dosa terhadapmu, pergilah dan tunjukkanlah kepadanya kesalahannya, hanya di antara kalian berdua. Jika dia mendengarkan Anda, Anda telah memenangkannya kembali.Hal ini penting karena beberapa alasan. Pertama, ini menunjukkan respek terhadap pasangan kita. Tidak sopan membicarakan masalah dengan ibu kita, teman kita, atau orang lain tanpa dibahas terlebih dahulu dengan pasangan kita. Jika pasangan kita tahu, sebenarnya bisa menimbulkan lebih banyak konflik. Kedua, setiap cerita memiliki dua sisi, dan mereka yang paling dekat dengan kita (seperti keluarga dan teman) mungkin tidak memiliki kemampuan untuk memberi kita nasihat yang tidak memihak.
Ini tidak berarti kita tidak boleh berbicara dengan orang terdekat kita, kita boleh melakukannya, tapi hanya setelah mencoba menyelesaikannya dengan pasangan kita terlebih dahulu. Dan saat kita berbicara dengan orang lain, kita tetap harus menghormati pasangan kita.
5. Mencari Penasehat Bijaksana
Matius 18:16-17Namun, untuk membangun pernikahan sehat yang Tuhan maksudkan untuk kita, kita harus rela mengekspos diri kita dan mencari pertolongan. Dalam Matius 18, Yesus mengatakan untuk melibatkan orang lain dalam menyelesaikan konflik. Ini sulit, tapi jika kita pengikut Kristus, kita harus percaya bahwa dia tahu yang terbaik. Tuhan ingin menggunakan orang-orang saleh lainnya untuk berbicara dalam pernikahan kita.
Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
6. Segera Mencari Resolusi
Efesus 4:26-27
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Paulus mengatakan untuk menyingkirkan kemarahan sebelum hari selesai, karena jika tidak, itu akan memberi Setan sebuah pijakan. Apa artinya ini? Pijakan "adalah terminologi perang. Ini berarti bahwa ketidakberdayaan dan kemarahan akan menjadi pintu bagi setan untuk terus menyerang seseorang atau sebuah hubungan.
Kristus berkata kepada para murid bahwa jika mereka tidak memaafkan orang lain, Tuhan akan melakukan hal yang sama kepada mereka. Ini adalah konsekuensi karena menyimpan kemarahan dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Bila kita memilih untuk menahan amarah dan kepahitan, tangan Tuhan sedang menggunakan masalah untuk didisiplinkan kita.
Saat kita tidak mengampuni, Tuhan juga tidak akan mengampuni kita (Mat 6:15) dan dia tidak akan mendengar doa kita. Petrus meminta agar suami memperhatikan istri mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat sehingga tidak ada yang menghalangi doa mereka (1 Petrus 3:7). Pernikahan yang memendam kepahitan dan amarah satu sama lain menjadikan doa tidak mempunyai kekuatan.
Bila terjadi konflik, kita harus segera mencari resolusi. Tentu saja, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memaafkan kita atau menginginkan mereka untuk menyelesaikan masalah. Namun, kita bisa melakukan sebanyak mungkin untuk hidup dalam damai dengan seseorang (Roma 12:18)
7. Bersedia Berkorban
Pengorbanan ini harus ditunjukkan secara khusus saat dalam konflik. Paulus mengatakan hal ini kepada jemaat Filipi yang sedang berjuang dengan konflik internal (Filipi 4: 1-3)Jangan melakukan apa pun dengan ambisi egois atau kesombongan sia-sia, tapi dengan rendah hati pertimbangkan orang lain lebih dahulu dari dirimu sendiri. Masing-masing dari kita seharusnya tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, tapi juga untuk kepentingan orang lain. Mereka harus merendahkan diri seperti Kristus.
Bagaimana Tuhan memanggil Anda untuk berkorban dalam menyelesaikan konflik pernikahan? Apakah Tuhan memanggil Anda untuk melepaskan persahabatan yang membawa pengaruh buruk atau menyebabkan perselisihan? Apakah Tuhan memanggil Anda untuk lebih banyak membantu di rumah, untuk lebih peduli pada anak-anak, untuk mulai terlibat dalam sesuatu yang disukai pasangan, untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan pasangan daripada melakukan sesuatu yang lain? Pengorbanan adalah rahasia untuk menyelesaikan konflik, sementara keegoisan adalah sumber dari konflik.
8. Mencintai Pasangan Dengan Mendalam dan Menutupi Dosa-dosanya
Akhirnya, ketika dalam konflik, kita harus mencintai pasangan kita dan menutupi dosa-dosanya. 1 Petrus 4:8 "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa."Melalui konflik, Tuhan memperkuat cinta. Meskipun menyakitkan, justru dapat menghasilkan kapasitas mencintai yang lebih besar. Ini harus menjadi dorongan saat konflik terjadi untuk menutupi dosa pasangan kita.
1 Korintus 13:5
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
(Diterjemahkan dengan perubahan seperlunya dari bible.org)

0 Response to "8 Langkah Alkitabiah Menyelesaikan Konflik Pernikahan"
Posting Komentar